Friday, February 10, 2012

MENDADAK WISATA


Ini bukan rangkaian dari EDISI WATUKUMPUL loh yaaa. Ini wisata dilakukan setelah penelitian di Pemalang.


Hari selasa tanggal 7 pagi kami berencana pergi ke Solo yaa, tempatnya si juragan tahu bakso Clara. Janjian di Stasiun Lempuyangse alias Lempuyangan pukul 8.00 dan karena kita datang lebih dari waktu yang telah disepakati. Walhasil kita naik kereta pukul 09.36. Turunlah kita di stasiun Jebres dan sudah dijemput oleh empunya Solo, Clara Adika. Mampir rumah dulu makan rendang jengkol dan daging yang dimasak oleh ibunya Clara. Rasanya nggak kalah sama rendang punya masakan Padang. Yang kenceng makan jengkolnya si Nisa. Kemudian petualangan di mulai meeeeeeeeeeen. Mobil mengarah ke Karanganyar. Dan kita memutuskan untuk ke Jumog Waterfall daripada ke Tawangmangu, soalnya kenapa? Karena di Jumog tangga untuk mencapai obyek wisata air terjun nggak sebanyak di Tawangmangu. Selain itu, di Jumong nggak ada monyita-monyita nakal.





Kemudian perjalanan dilanjutkan. Niatnya ke Telaga Madirdo tapi karena lahan parkir yang tidak memadahi kami lanjut ke Candi Sukuh. Kali pertamanya ke candi ini, kemaren-kemaren tahunya cuma Candi Borobudur, Prambanan, Candi Ijo, Candi Abang, dan beberapa candi yang ada disekitar Jogja. Baguuuuuuuus! Tooooop tenan pokoke! Pemandangannya juga bagus. Siapa yang membangun Candi Sukuh? Aku akuin memang pemilihan tempatnya oke. Kalo dijadikan hotel, pasti laris manis deh tempatnya. Oiyaa bentuk candinya itu mirip piramida Maya menurutku. Nggak meruncing di atasnya. Kalo harus balik lagi aku mau deh yaaa. Mengobati penat dan risau, cieee risau men!!

Pemandangan yang bisa dilihat dari candi Sukuh. Cihuuuuuy banget :D
Ini candi utamanya. Kan bentuknya kayak piramida Maya. Fotonya nggk alami karena ada wisatawan lokal yang lagi foto juga, jadi nggak enak buat ngusir. Si mbaknya ini juga yg ngambil foto kita berlima :p


Naah ada beberapa arca, ini termasuk arca bukan yaa? Yaah sebut saja arca kura-kura deh yaa. Sebenarnya arti kura-kura apa yaa zaman dulu? Bisa nih nanya sama uncle Goo



Ini dia foto yang dimbil sama mbak-mbak yang lagi main di candi juga. Turis banget kan kita berlima.

Perjalanan tidak berhenti di sini saja. Setelah merasa cukup dengan wisata sejarah perjalanan pertama, kami lanjut lagi. Kali ini kita wisata memanjakan mata. Berhenti di jalan produksi kebun teh, namanya Kemuning. Lumayan banyak orang yang berwisata selain kita. Eh ada bapak penjual siomay atau salome atau pentol atau bakso ojek atau pokoknya tinggal makan aja deh kita :p terus ambil tempat duduk dan ngobrol-ngobrol deh kita. Hihihi agak malu sih, tapi aku teriak kenceng nyebut nama. Lega sedikit, tapi masih nyesek hehe. Tau deh nggak penting itu, mending nerus memanjakan mata deh ya



Serasa di daerah Bandung atau di Pekalongan loh, tapi nggak terlalu dingin. Cuma was wes angin kenceng aja. Kalo ada kebun teh itu ingetnya sama si Sherina dan Sadam, film Petualangan Sherina zaman baheula. Hahahaha nostalgia tontonan masa kecil.

Lanjut apa pulang? Lanjuuuut lah. Nanggung kalo pulang. Perjalan terus ke arah Gunung Lawu yang lebih atas. Sampe-sampe mobil beberapa kali ambil ancang-ancang, bukan karena ada beban aku yang besar, tapi karena ada tanjakan yang lumayan. Ada plang ke arah Candi Cetho. Semakin ke atas pemandangan semakin indah loh! Percaya nggak percaya. Parkir mobil dan kita jalan ke candinya. Kirain setelah gerbang langsung sampai. Ternyata ada beberapa tingkatan gerbang. Belum baca tentang Candi Cetho lebih banyak, habis ini coba minta bantuan ke uncle Goo lagi deh.




Setelah gerbang pertama kita menjumpai patung yang unik. Dari depan hanya terlihat satu patung, tapi dilihat dari belakang, ternyata ada patung yang ngumpet dan berukuran lebih kecil.





Serasa di Bali loh kita. Gapuranya mirip di pura. Ya emang ya, ini kan candi dibuat beribadah masyarakat yang menganut agama Hindu. Aku nanya sama bapak yang di tiket, warga di daerah Candi Cetho beragama Hindu. Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 dan dari kerajaan Majapahit.

sebelumnya relief yang menggambarkan kelamin laki-laki dan perempuan yang ada di tanah ini tahu dari internet apa tv, tapi sekarang tahu secara langsung. Ukurannya memang besar dan subhanallah yaa. Nah kan ada patung kura-kura, semakin penasaran deh apa maknanya. Nanya Bu Endah kali ya? Bu Endah itu guru sejarah SMA yang paling oke banget *duh jadi kangen Bu Endah*


Ini candi inti dan terletak di bagian paling atas. Lagi-lagi bentuknya mirip dengan piramida


Kita ke Candi Cetho itu udah hampir pukul 6.00 sore, tapi masih terang aja. Takut kemaleman, kita cuss turun ke bawah, eh semakin kita turun semakin gelap loh. Dan kita menemukan gambaran langit yang uapiiiiike tenan ra ngapusi!!!!!



Ini foto no edit. No edit. Sumprila sumpritadoressss

Perjalanan hari itu diakhiri dengan cerita-cerita di kasur sampai pagi. Duroh tidur duluan. Buwanyak deh ceritanya. Ada beberapa cerita yang bikin melongo. Beberapa pengakuan dan nasehat. Coba yang ikut lengkap bersembilan, pasti kamar Clara rame kayak emak-emak arisan berlian dan lupa kalo suami di rumah kelaparan. Persamaan yang aku dapat dari sahabat tercinta dan terkasih SMA dan  kuliah  itu adalah, seru kalo cerita, merasa cocok, bergreget dan hangat dan ada aja yang bisa diceritakan dan kejutan di dalamnya. Aaaaaa jadi semakin sadar aku, sahabat itu penting, bukan hanya satu dua atau tiga keuntungan, tetapi berlipat keuntungan kita dapat. Bersyukur ya Allah punya banyak sabahat yang pasti memberikan goresan warna nyata dalam hidup :D :D :D

Hari kedua kami makan soto sapi buatan Ibunya Clara. Ciamseeeee rasanya, nagih. Soto sapi terkenal mah lewat doang, nggak mampir apalagi parkir. Lalu jalan-jalan deh berlima ditambah sama Mbak Tika, mbaknya Clara ke Pasar Triwindu dan Pasar Semanggi. Di Pasar Triwindhu serasa jalan sama suami dan milih-milih barang antik buat rumah baru kita. Kalo enggak jalan sama pasangan yang baru mau menikah cari-cari uang kuno untuk mas kawin. Hihihi *selalu deh berimajinasi*

Petang hari kami ke Stasiun yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, nyegat kereta terakhir untuk pulang ke Jogja. Terimakasih Clara dan keluarga karena menjamu kita dengan hangat dan menyenangkan. Besok- besok balik lagi ke Solo yaaaa... dengan pasukan yang lengkap dan cerita yang berbeda dan lebih menyenangkan. Next destination, Gombong, Tempel, BSD, Jekardah.





Sunday, February 5, 2012

EDISI WATUKUMPUL – KELUARGA BARU

Setelah menempuh perjalanan dari Jogjakarta-Pemalang ± 8jam. Mampir di Semingkir untuk berganti kendaraan, dari bus menjadi Coak -Coak itu angkutan seperti minicolt tapi dari pick-up. Penyambutan di Kecamatan Watukumpul, hingga penyebaran daerah penelitian. Akhirnya sampailah aku dan kedua partnerku, Felin dan Rara di Dusun Belik, Bodas. Coak yang dikemudikan oleh Kang Jonet berhenti di sebuah rumah yang belum selesai dibangun dan masih dasarnya saja.



AND...... THIS IS IT MY NEW FAMILY :D


Ini foto keluarga baruku. Terdiri dari Pak Solikhin, Ibu Isah, Fika, Sinta-Santi. Pak Likhin yang merupakan panggilan dari Pak Solikhin adalah Kepala Dusun Belik. Bapak baru saja menjadi Kadus, dimulai setelah lebaran tahun lalu. Bapak ini orangnya baik dan selalu meningatkan untuk solat, sebelum pulang ke Jogja aja bapak pesen untuk tetap solat, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Ibu Isah, sejak awal bertemu dengan ibu ini, ketawanya renyah dan ramah. Masakan ibu enak, andalannya adalah ikan pindang cabe ijo. Issssssh mantap punya deh buatannya. Sambal yang dibuat juga enak. Nguleeeek abisss!!! Oiyaa ibu itu masih muda loh, kelahiran tahun 1981 yang berarti berumur 31 tahun. Bu Isah cantik. Ini nih Ibu Isah ->


Lalu anak pertamanya yang bernama Fika. Dia masih kelas satu SMP. Bayangpun ya dia itu bangun jam setengah lima pagi dan berangkat sekolah jam setengah enam dengan berjalan kaki menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Sampai di pasar Majalangu dia naik Coak ke SMPnya. Pulangnya pun jalan kaki. Salut sama anak sekolah di sini. Namun kebanyakan dari anak-anak di Dusun Belik sendiri tidak melanjutkan sekolah setelah lulus dari SMP. Dia ini k-pop lovers, suka sama Goo Hye Sun yang jadi Gem Jan Di, sama anak BBF. 
Ini nih anak kedua bapak yang jumlahnya dua alias kembar. Namanya Sinta dan Santi. Yang lahir terlebih dulu namanya Sinta. Badannya Sinta pun lebih besar dari Santi. Tapi kalo masalah berkelahi, si Sinta pasti  kalah dan akhirnya mewek. Andalannya adalah tapuk-tapukan alias keplak-keplakan alias tampar-tamparan. Habis magrib biasanya kedua bocah ini ngaji, suaranya mirip sama suaranya Upin dan Ipin ngaji loh! Suweeeer! Kalo sekolah mereka sering bolak-balik ke rumah. Ada aja yang alasannya. Awal-awal ketemu itu mereka berdua diem, setelah kenal banyak omong dan lucu. Giginya grimpil dan gigis, kalo suruh mringis pasti malu.

Ini foto sinta santi, yang tengah kembar tunggal. Hihi sebutlah sisa daging banyak karena kelihatannya besar :p

Kurang lebih duabelas hari tinggal sama keluarga Pak Likhin itu senang. Banyak cerita dan pelajaran. Mulai dari cerita kecil hingga cerita mengenai urban legend di daerah ini. Selalu saja setiap penelitian ada cerita mengenai makhluk tetangga beda dunia. Dari keluarga ini pun aku belajar untuk bangun, pukul 04.30 udah bangun dan tidurpun di bawah pukul 21.00. Jadi, hidup di daerah yang sedikit jauh dari rutinitas kota itu membuat hidup lebih teratur dan tenang, walaupun akses untuk ke kota terhitung susah.

Sebagai kenang-kenangan untuk kami dan nantinya akan dikirim ke Pemalang, kami mengadakan acara poto sesyen di malam terakhir kami di rumah Pak Likhin. Ini dia beberapa foto yang dimabil oleh tetangga dari dusun Bodas Kracan yang menginap di rumah kami.





cerita selanjutnya menyusul yaaa. tenang-tenang, masih banyak kok ceritanya. stok di gudang masih ada :D


EDISI WATUKUMPUL- BODAS RUNAWAY!!!!!!!

Selama kurang lebih 14 hari, tepatnya tinggal di sebuah dusun yang jauh dari kota selama 12 hari. Di sana mendapat banyak pelajaran, cerita lucu dan berbeda, coba-coba masak dan icip-icip makanan. Cerita akan aku tulis secara berkala. Jadi untuk kali ini namanya Edisi Watukumpul. Kenapa di atas aku tulis Bodas Runaway? Itu karena usulan dari Felinda, salah satu homemate aku di sana. Kita tinggal di Dusun Belik dan masuk ke dalam Desa Bodas. Kalo nanti bajunya terlihat itu-itu aja, maklum aja ya, soalnya kita ganti baju itu 4-5hari sekali. Selain karena jarang ada matahari, kita masih merasa nyaman dengan pakaian itu :p *berkilah* walaupun nggak ganti baju berhari-hari, kami tetap mandi loh :D
 
BODAS RUNAWAAAYYYYY !!!!
 





pokoknya ditunggu ya postingan dengan edisi Watukumpul-Bodas Runaway :D